• Waktu

    Puisi Waktu

    Di sela nafas

    Di antara dua detak jantung,
    ada jalan kecil
    tak selalu lurus.
    kamu menyebutnya waktu—
    tapi leluhur memanggilnya lain:
    jejak cahaya yang kembali kepada dirinya sendiri.

    Kadang ia melengkung seperti punggung orang tua
    yang terlalu banyak menanggung doa.
    Kadang ia merayap, diam.
    seperti kabut turun berlahan
    mencium batu-batu tua di kampungmu.
    Dan kadang berhenti,
    menyembunyikan seluruh rahasia
    dalam sepi yang lebih tua dari kita.

    Katamu:
    “Jika kamu rasa waktu terlalu cepat,
    itu bukan salah jam di dinding.
    mungkin hatimu yang menjauh dari pusatnya.”

    Aku duduk.
    menyimak bunyi kecil yang tersisa
    di dasar dada.
    di sana kulihat sesuatu melengkung:
    sebuah garis seharusnya lurus
    tapi kembali ke awalnya,
    seperti seorang perantau yang mengerti
    pulang bukanlah jarak.

    Dalam lengkung itu,
    aku mulai memahami kata para sufi:
    Alam berjalan bukan karena ia bergerak,
    tapi kita yang sedang terjaga dalam mimpi-Nya.

    Waktu menunduk perlahan.
    Ia lewat di sampingku,
    melewati tubuhku yang rapuh,
    lalu berbelok halus—
    seperti sengaja menghindari
    kesombongan seorang hamba
    yang terlalu sering mengira dirinya pusat semesta.

    Katamu lagi:
    “Jangan kejar waktu.
    Ia tidak lari.
    Kamulah yang tersesat.”

    Dan pada malam itu,
    di antara gelap yang lembut,
    aku menangkap bisikannya:

    waktu mungkin bukan garis,
    tapi lingkaran yang terus kembali
    pada Sang Cahaya.
    setiap lengkungan adalah isyarat,
    setiap detik adalah pintu. Perlu diketuk
    diam-diam
    di ruang terdalam jiwamu.

    aku tunduk,
    biarkan waktu melengkung di tangan Tuhan,
    dan aku—
    hanya debu. Pasrah
    pada arah angin, pada waktu.
    Teluk Buli,06 Des 2025

  • Rendra, ‘Hai Ma!’

    Dari sekian puisi-puisi Rendra, salah satu yang saya suka adalah ‘Hai, Ma!’ ditulis 1992, saat ia tampak matang sebagai penyair dan manusia. Puisi itu menggetarkan saya. Tak hanya saat membacanya, tapi juga menonton video Rendra sendiri membacakannya. Suara serak itu, tatapan sayu tapi tajam itu, dan jeda panjang itu, seperti menahan napas kehidupan.

    Rendra tak hanya dapat beretorika dengan meledak, tapi juga ketenangan dan kejujuran. Dan kita tahu, dalam Hai Ma! Rendra tidak berpidato. Rendra tidak membentak dunia, tapi menyambuk dirinya sendiri—kepada “Ma”, kepada hidup, kepada fitrah.

    “Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku, ” tulisnya,

    “tetapi hidup yang tidak hidup. Karena kehilangan daya dan fitrahnya”

    Sejak awal, puisi ini tidak bicara tentang kematian, tapi mengenai kehilangan daya hidup—tentang manusia yang masih bernapas tapi merasa tak hidup lagi. Baris itu seperti cermin diri sendiri.

    Saat kita masih berjalan, bekerja, tersenyum, tapi di dalamnya tak ada getar yang nyata.

    Puisi ini bergerak dari hampa menuju makna, dari beku ke getaran. Dan yang memulihkan hidup itu bukan filsafat, bukan ideologi tapi kehadiran seseorang yang dicintai.

    “Tetapi, Ma, setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini, aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku… hidup menjadi nyata, fitrahku kembali.”

    Sederhana, tapi tersimpan ledakan keinsafan. Manusia tak hanya berpikir. Tapi juga merasakan. Rendra menemukan kembali fitrah-nya melalui cinta, melalui kehadiran yang membuat tubuhnya berdarah kembali, yang mengembalikan makna paling dasar dari hidup.

    Ketika Rendra menulis “fitrahku kembali,” itu bukan hanya metafor religius yang kering, tapi  peristiwa biologis juga spiritual. Tubuh, jiwa, dan cinta bertemu dalam satu titik yang disebut hidup. Rendra tahu, fitrah bukan sesuatu yang ditemukan di langit, tetapi di dada manusia, di bau kulit kekasih, di suara tukang kebun, di cicak yang berbunyi di tembok.

    Kita tahu, puisi ini lahir di Jakarta, Juli 1992 di tengah kota yang berisik, di masa ketika basa-basi menjadi budaya dan kesunyian dianggap aneh. Rendra melihat dunia di sekelilingnya cemar oleh formalitas, oleh pertengkaran tanpa persoalan, oleh percintaan tanpa asmara.

    “Hidup cemar oleh basa-basi,

    dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan,

    atau percintaan tanpa asmara, dan sanggama yang tidak selesai.”

    Rendra seperti menulis untuk masa depan kita hari ini: zaman yang sama bisingnya, sama lemahnya, sama kehilangan arah. Dan di tengah kebingungan itu, puisi Hai, Ma! hadir sebagai pengingat bahwa di luar segala hiruk pikuk, masih ada ruang di mana manusia dapat kembali menjadi manusia.

    Ketika Rendra berkata:

    “Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa,”

    Rendra sepertinya telah mencapai puncak kesadaran spiritualnya. Pasase itu terdengar seperti zikir, seperti kesaksian seorang sufi yang menyadari Tuhan tak pernah jauh. Ia bersemayam di dalam diri, dalam cinta, dalam hidup, dalam tubuh yang tergetar oleh rasa syukur.

    Dalam Hai, Ma!, Rendra menemukan kembali apa yang ia cari sepanjang hidupnya. Bukan keabadian, tapi kehadiran. Bukan kemenangan, tapi hubungan. Rendra menulis bukan untuk menasihati, tetapi mengingatkan kita—bahwa fitrah manusia bukanlah kesempurnaan, melainkan kesanggupan untuk hidup dengan penuh kesadaran.

    Buat saya, puisi ini tak hanya kisah cinta, tetapi kisah pertobatan seorang manusia dari kelelahan dunia. Dan setiap kali saya mendengar suaranya dalam video itu, saya merasa sedang diajak pulang. Iya. Pulang ke tempat paling sederhana, paling sejati, diri sendiri. Tempat di mana hidup kembali bermakna.

    Teluk Buli, 2025

  • Muhammad

    Kita menyebut namanya.
    Seperti memanggil sesuatu yang jauh, tapi hadir di ruang yang tak bisa kita ukur.

    Islam tak menuhankannya.
    Ia tetap hamba. Tapi dalam sujudnya ada langit yang tak jatuh ke bumi.
    Ia bukan Tuhan—dan justru karena itu, ia menjadi jalan.

    Para penyepi menyebutnya cermin.
    Tak menyimpan cahaya, hanya memantulkannya.
    Ia tak meniadakan jarak, ia merawatnya—karena tanpa jarak, tak ada rindu.

    Shalawat adalah tanda kita ingin terhubung.
    Sebuah kata yang melintas, seperti benang halus yang mengikat bumi pada langit.
    Kita kirim salam, agar sampai. Kita kirim doa, agar tak hilang.

    Dan mungkin kita lupa:
    Nama itu tak hanya bunyi.
    Tapi arah. Tapi janji bahwa yang terbatas bisa mendekati Yang Tak Terbatas—tanpa melebur, tanpa kehilangan diri.

    Teluk Buli, 2025

  • 80 Tahun: Garuda, Naga dan Lain-lain

    Indonesia merdeka delapan puluh tahun. Saya teringat cerita Garuda—burung perkasa yang turun melawan naga—setelah menonton The Guardian of Nusantara karya Alffy Rev, Once Mekel, Sudjiwo Tejo, dan Novia Bachmid.

    Video itu, yang tayang setahun lalu di kanal Youtube itu, masih terasa relevan di usia bangsa ini yang kian renta. Sebab mitos, seperti sejarah, tak pernah selesai. Ia selalu kembali, menagih makna baru di zaman yang berbeda.

    Dalam kisahnya, Garuda tak hanya lambang kekuatan. Ia melawan naga demi menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Dari sana kita tahu, asal-usul Garuda bukanlah mengenai tahta, tapi cinta—cinta anak pada ibunya, cinta yang menolak diperbudak. Ibunya adalah bumi, rahim kehidupan. Dari tanah yang lembap tumbuh tanaman, dari rahim itu kita memperoleh air, udara, dan masa depan.

    Jadi, cinta Garuda sesungguhnya adalah cinta manusia kepada bumi, cinta yang menghidupkan. Tapi naga tak pernah benar-benar lenyap. Ia hanya berganti rupa. Kita menyebutnya oligarki. Orang Indonesia sudah lama mengenalnya dengan metafor “sembilan naga”: para penguasa ekonomi yang melilit republik dengan belitan modal.

    Di Halmahera, naga itu lebih kasat mata. Ia menjelma dalam konsesi tambang nikel, dalam mesin-mesin raksasa yang menggali perut bumi. Atas nama transisi energi, hutan ulayat dibongkar, sungai dicemari, kampung-kampung kehilangan tanah leluhur. Hilirisasi dipuja, tapi yang hilang justru lebih nyata: ikan, hutan, dan air bersih.

    Ironisnya, Garuda kini lebih sering jadi hiasan di dinding-dinding birokrasi. Padahal ia lahir dari cinta kasih seorang anak pada ibunya. Cinta yang menolak perbudakan—juga perbudakan baru yang kini menimpa bumi.

    Delapan puluh tahun setelah Proklamasi, pertanyaan itu menggema: masihkah kita mewarisi Garuda, atau diam-diam kita berpihak pada naga dan memujanya?

    Delapan puluh tahun Indonesia merdeka. Angka itu seperti sebuah perayaan, tetapi juga seperti cermin yang retak. Kita melihat wajah kita sendiri, tetapi terbelah dengan pertanyaan-pertanyaan. Apakah merdeka berarti membiarkan bumi—ibu yang memberi kehidupan—diperbudak oleh naga yang berganti rupa? Apakah kemerdekaan hanya parade di jalan-jalan, atau keberanian menjaga tanah, air, dan udara yang membuat kita tetap ada?

    Saya teringat Amartya Sen pernah menulis: kemerdekaan tak hanya bebas dari penjajah, tetapi bebas dari segala belitan yang merampas martabat manusia. Dan mungkin, martabat itu pertama-tama lahir dari cara kita memperlakukan ibu. Bila bumi terus dililit naga, kemerdekaan ini sesungguhnya pincang.

    Garuda yang dahulu terbang, bukan untuk takhta, tapi demi cinta. Ia turun melawan naga menyelamatkan ibunya. Delapan puluh tahun setelah Proklamasi, mungkin itulah yang harus kita ingat: merdeka tak pernah selesai, dan naga selalu kembali. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita masih sanggup mewarisi sayap Garuda, atau perlahan menyerahkan diri ke dalam pelukan naga?

  • Membaca Ulang The Empty Seashell sebagai Semiotika Ekstraktivisme di Teluk Buli

    Judul: The Empty Seashell: Witchcraft and Doubt on an Indonesian Island
    Penulis: Nils Bubandt
    Penerbit: Cornell University Press, 2014
    Tebal: ± 320 halaman
    ISBN: 978-0-8014-7945-8 (paperback)

    Saya mengenal Nils Bubandt saat masih duduk di bangku SMP. Orang Buli, karib menyapanya dengan “Mister”. Setiap kali berpapasan di jalan, sapaan yang terdengar selalu sama: “Mister fan manca?”—Tuan mau ke mana?

    Tapi yang membuat kami kagum, terutama bagi orang Buli Asal, adalah kefasihannya berbahasa Buli. Bahkan di kalangan anak muda sekarang, tidak semua mampu berbicara sefasih Nils Bubandt.

    Kefasihan itu tak hanya kemampuan bahasa, melainkan cermin dari kedalaman pergaulannya dengan orang Buli, yang kelak terwujud dalam karya etnografinya The Empty Seashell: Witchcraft and Doubt on an Indonesian Island.

    ***

    Nils Bubandt, antropolog asal Denmark, menghabiskan lebih dari dua dekade meneliti kampung pesisir Buli di Halmahera Timur. Karyanya The Empty Seashell memadukan etnografi mendalam dan teori filsafat untuk membedah konsep gua—penyihir kanibal dalam kosmologi lokal—dan bagaimana fenomena ini hidup di dalam ketidakpastian, keraguan, dan ambiguitas sosial. Bubandt menolak pandangan klasik yang melihat sihir hanya sebagai “kepercayaan” atau sistem penjelasan. Buatnya, gua adalah sebuah aporia—pengalaman yang tak berujung, tak bisa diputuskan, dan terus membentuk relasi sosial, bahkan di tengah arus modernitas.

    Bubandt memisahkan gua (witchcraft) dari sihir (sorcery) dalam tradisi Buli. Sihir adalah keterampilan yang bisa dipelajari, diperdagangkan, dan digunakan untuk tujuan tertentu, sering kali bersifat politik. Sebaliknya, gua adalah kualitas bawaan tubuh yang tak selalu disadari pelakunya, menyerang secara lokal, dan tidak memberi keuntungan sosial atau politik.

    Masyarakat Buli hidup dalam ketidakpastian permanen: siapa saja bisa menjadi gua, bahkan tanpa mengetahuinya. Keraguan ini tak menghapus keyakinan, justru menjadi kondisi hidup yang terus diolah melalui ritual, narasi, dan strategi sosial.

    Dalam analisisnya, Bubandt menggunakan konsep aporia dari Derrida untuk menunjukkan bahwa realitas gua adalah paradoks yang tak bisa diselesaikan: nyata sekaligus tak terlihat, hadir sekaligus absen.

    Buku ini juga menelusuri sejarah panjang upaya masyarakat Buli untuk menghapus gua, mulai dari pengaruh misi Kristen, aturan kolonial dan negara, hingga janji modernitas. Namun, seperti hantu yang tak mau pergi, gua terus beradaptasi dalam konteks baru.

    Etnografi ke Ekstraktivisme

    Saya tertarik membaca Sampul buku The Empty Seashell yang menampilkan cangkang nautilus kosong di tepi pantai Teluk Buli, dengan latar Pulau Gei—yang kini telah selesai ditambang PT. Aneka Tambang dan dibiarkan menganga begitu saja.

    Dalam narasi Bubandt, cangkang kosong adalah simbol “kehadiran dalam ketiadaan”: bukti fisik gua yang tak pernah terlihat langsung. Menggunakan semiotik kontemporer, cangkang itu juga menjadi metafora tubuh alam Halmahera yang telah dikosongkan oleh ekstraktivisme—hutan, laut, dan tanahnya diambil, menyisakan kulit indah untuk konsumsi visual global.

    Pulau Gei di latar belakang adalah horizon yang tergadai. Ia adalah “ghost image” yang mengisyaratkan kekuatan tak kasat mata namun nyata: industri tambang yang, seperti gua, datang dari pinggiran, masuk ke pusat kehidupan, dan meninggalkan jejak kerusakan.

    Wajah baru Suanggi

    Dalam kosmologi Buli, gua dan suanggi adalah predator sosial yang bekerja di ruang ambiguitas—terlihat dan tak terlihat, diketahui namun diragukan. Pola ini selaras dengan cara industri tambang beroperasi: masuk dengan janji pekerjaan dan pembangunan dan CSR, namun meninggalkan kerusakan ekologis dan sosial. Hantu itu kini berwujud korporasi, konsesi, dan kapal tongkang.

    Pantai Teluk Buli di foto adalah ruang liminal, perbatasan antara dunia manusia dan dunia gaib. Kini, ia juga menjadi batas antara kehidupan sehari-hari masyarakat dan kekuatan ekonomi-politik global yang sulit dihadapi secara langsung.

    The Empty Seashell adalah salah satu etnografi paling penting dari Maluku Utara, menggabungkan detail kehidupan lokal dengan refleksi teoretis tingkat tinggi. Ia mengajak pembaca memahami bahwa gua tidak bisa dihapus dengan modernitas, sebagaimana ekstraktivisme tak bisa dihapus hanya dengan retorika pembangunan berkelanjutan.

    Dengan pembacaan semiotik di sampulnya, buku ini juga membuka kemungkinan tafsir baru: gua sebagai metafora ekstraktivisme yang mengosongkan tubuh alam dan sosial Halmahera. Membaca buku ini hari ini berarti juga membaca lanskap Buli sebagai teks—teks yang di dalamnya mitos, sejarah, dan kapitalisme global saling menjelma satu sama lain.

    Teluk Buli, Agustus 2025

  • Yang Terjaga

    Ilustrasi

    Pagi itu langit mendung, cahaya putih merambat dari balik tirai jendela. Udara basah. Suara langkah kaki di lantai terasa lebih lambat dan waktu seolah menahan napasnya sendiri.

    Ia bangun dengan perasaan aneh. Seperti bagian dirinya masih tertinggal di dalam mimpi.

    “Aku merasa mengalami ini sebelumnya, tapi entah di mana,” gumamnya sambil duduk di pinggir ranjang. Ia menyentuh dahinya. Dingin. Sekilas ia seperti mendengar suara hujan, padahal hanya angin.

    Langkahnya pelan menuju cermin. Ada bayangan samar di balik kaca: dirinya, tapi tak sepenuhnya. Ia menatap, dekat. Lekat, seperti mencari sesuatu yang hilang.

    Hari-harinya berlalu seperti biasa. Ia menyeduh kopi, bermain dengan anak, berangkat kerja, dan berbicara dengan orang-orang. Tapi semua itu terasa jauh.

    Seolah ia sedang memainkan peran di atas panggung, dengan naskah yang tak sepenuhnya ia pahami.

    Suatu malam, dia bermimpi. Berada di sebuah ruangan rumah tua. Rumah yang serasa akrab tapi tak pernah ia lihat sebelumnya. Di dalamnya, seorang perempuan tua duduk di kursi goyang, tak berkata-kata. Tatapannya dalam seperti tahu segalanya.

    Saat ia hendak bertanya, mimpi itu buyar. Ia terbangun, napas tercekat.

    Sejak malam itu, rumah dalam mimpinya kerap datang kembali. Ia bisa mengingat pintu kayu yang berderit, cahaya redup yang mengalir dari loteng, dan aroma pandan yang samar di udara. Setiap detailnya begitu jelas. Bahkan lebih jelas dari yang ia alami di dunia nyata.

    Siang hari, ia sering merasa lelah tanpa sebab. Konsentrasinya buyar. Saat berbicara dengan rekan kerja, ia merasa sedang berbicara dalam mimpi. Ia mulai mempertanyakan: mana yang nyata? Yang bangun atau yang tidur?

    Ia pun mencari. Ia membaca. Ia menelusuri kalimat-kalimat yang pernah hanya ia lewati. Hingga suatu malam, ia menemukan satu sabda yang membuatnya terdiam:

    “Manusia itu tidur. Baru ketika mati, mereka bangun.”

    Sabda itu seolah menjawab kegelisahannya. Tapi bukan jawaban yang menenangkan. Sebaliknya, ia merasa seluruh rasa aman tentang dunia runtuh begitu saja.

    Ia teringat ucapan seorang gurunya yang pernah ia dengar berpuluh tahun lalu. Tentang seorang sufi yang berkata kehidupan dunia ini adalah mimpi sehingga perlu ditakwil.

    Ia mulai bertanya pada dirinya: apakah hidup ini hanya mimpi yang menunggu takwil? Jika demikian, apa makna dari pekerjaannya? Dari cintanya? Dari segala rasa sakit dan bahagia yang pernah ia alami?

    Malam itu, ia bermimpi lagi. di rumah tua yang sama. Tapi kali ini, ia tidak sendiri. Perempuan tua itu berbicara.

    “Sudah lama kamu tertidur,” katanya.

    “Aku… siapa aku sebenarnya?”

    Perempuan itu tersenyum.

    “Kamu adalah cerita yang belum tamat dan makna yang belum ditakwil.”

    Lalu bayangan rumah itu berlahan menghilang. Ia melihat dirinya berdiri di sebuah padang luas. Tidak ada apa-apa, hanya cahaya tapi tak silau. Ia melangkah. Cahaya itu bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri. Ia merasa dirinya bukan tubuh, bukan pikiran, bahkan bukan nama.

    Saat ia terbangun, dunia tampak sama.

    Sejak itu, Ia tak lagi terburu-buru dalam rutinitas. Menyeduh kopi seperti membaca puisi. Mendengar suara cicak seperti mendengar wahyu kecil. Ia tahu hidup ini hanya mimpi. Tapi bukan berarti tidak bermakna. Justru karena itu, ia menunggu ditakwil.

    Dan kalimat itu makin hidup, dan tak berhenti berbisik lembut dalam dadanya:

    “Manusia itu tidur. Baru ketika mati, mereka bangun…”

  • Energi Bersih, Jejak Kotor di Halmahera

    Ilustrasi oleh Leonardo Ai

    Peletakan batu pertama pembangunan pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi di Halmahera Timur, Maluku Utara, pada 29 Juni 2025 sudah lewat. Proyek ini merupakan bagian dari investasi besar senilai 6 miliar dolar AS oleh perusahaan asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Limited (CATL).

    Pabrik ini diklaim sebagai yang pertama dan terbesar di dunia untuk ekosistem baterai yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Mulai dari penambangan nikel, pengolahan smelter, HPAL (High Pressure Acid Leach), hingga produksi prekursor dan katoda.

    Di tingkat nasional, pembangunan ini diposisikan sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan transisi menuju energi bersih. Namun bagi kami yang hidup di Halmahera, pertanyaannya: energi bersih untuk siapa, dan dengan ongkos apa?

    Jejak Pahit

    Realitas yang kami saksikan tidak seindah narasi besar tentang ekonomi hijau. Sungai-sungai yang dulu jernih kini keruh oleh sedimen tambang demikian juga pesisir, rusak.

    Kita tahu, temuan dari Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako bahkan memperkuat kekhawatiran itu. Penelitian itu menunjukkan 47 persen warga di sekitar Teluk Weda terpapar merkuri, dan 32 persen memiliki kadar arsenik dalam darah melebihi ambang batas aman. Bahkan, ikan-ikan yang menjadi sumber pangan warga telah tercemar logam berat, termasuk arsenik dan merkuri.

    Atas nama penyelamatan bumi dari krisis iklim, ruang hidup masyarakat di pulau-pulau seperti Halmahera justru menjadi korban dari model pembangunan yang masih bertumpu pada ekstraksi sumber daya tanpa batas.

    Transisi Energi atau Ekstraktivisme Baru?

    Tidak ada yang menolak masa depan energi bersih. Kita semua memahami kebutuhan dunia untuk beralih dari energi fosil ke energi yang rendah emisi. Namun, transisi ini akan kehilangan maknanya jika ia berdiri di atas ketidakadilan ekologis dan sosial.

    Narasi transisi energi tidak boleh menutupi kenyataan bahwa emisi karbon mungkin berkurang di kota-kota besar dunia, tetapi jejak ekologisnya berpindah ke desa-desa pesisir dan lembah-lembah di Halmahera Timur, Obi, Morowali, Weda, dan kawasan-kawasan tambang lainnya di Indonesia.

    Kekhawatiran Nyata

    Fakta terbaru semakin memperjelas kekhawatiran itu. Sebelas warga dari komunitas adat Maba Sangaji di Halmahera Timur kini ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di balik jeruji hanya karena mempertahankan hutan adat mereka dari ekspansi tambang. Mereka adalah simbol nyata bagaimana masyarakat yang menjaga alam justru dikriminalisasi atas nama investasi dan pembangunan.

    Kriminalisasi ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia berangkat dari kegagalan negara mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat atas tanah dan air. Alih-alih hadir sebagai pelindung rakyat, negara justru tampak berdiri bersama kepentingan korporasi. Ini adalah paradoks yang menyakitkan di tengah narasi pembangunan berkelanjutan.

    Pembangunan pabrik baterai terintegrasi tentu akan meningkatkan kebutuhan bahan baku, air, dan energi dalam skala besar. Teknologi HPAL yang digunakan, misalnya, memerlukan air dalam volume masif serta menghasilkan limbah asam yang berpotensi tinggi mencemari lingkungan. Sementara hingga hari kami belum melihat konsultasi publik Amdal yang benar-benar serius melibatkan warga lokal untuk membicarakan dampaknya.

    Keadilan Ekologi

    Kehadiran Presiden di Halmahera Timur adalah momentum penting. Namun kami berharap, kunjungan ini tidak hanya seremoni pembangunan industri global, tetapi juga kesempatan mendengar dan melihat langsung bagaimana proyek-proyek besar telah mengubah bentang alam dan kehidupan masyarakat lokal.

    Transisi energi seharusnya menjadi jalan perbaikan kualitas hidup, bukan jalan baru menuju perampasan ruang hidup rakyat. Prinsip keadilan ekologis mesti menjadi fondasi. Tanpa itu, transisi ini hanyalah wajah baru dari ketidakadilan global—di mana beban lingkungan dipindahkan ke pinggiran dunia demi kenyamanan pusat-pusat ekonomi global.

    Kami tidak menolak pembangunan. Kami hanya menuntut pembangunan tidak mengorbankan sungai kami, tanah kami, laut kami, dan masa depan anak-anak kami.

    Karena menyelamatkan bumi di satu tempat, tidak berarti menghancurkan bumi di tempat lain. Keadilan iklim haruslah berarti keadilan bagi semua, termasuk bagi kami yang hidup di pulau-pulau kecil, di tepian republik ini.

  • Cincin Itu

    Jemarinya tak mengepal, kadang mengibas di hadapan pecintanya. Ia lebih sering menggenggam sunyi dengan tafakur yang dalam, menahan kata, menyentuh waktu.

    Di sana, sebuah cincin bertakhta pada jari seorang lelaki yang sejak awal revolusi Iran hingga senja abad ke-20, dan kini abad ke-21, berdiri di tengah riuh dunia yang tak pernah sepenuhnya ramah pada kesunyian: Ayatollah Ali Khamenei.

    Cincin itu tak hanya hiasan. Di dalamnya, mungkin tergores nama Imam Jawad atau serpihan tanah Karbala. Sebagian batu mungkin berasal dari Najaf, dari Mashhad, dari medan yang dulu dipijak oleh kaki-kaki yang berjalan menuju pengasingan atau kemartiran. Ada akik kuning dengan inskripsi Hirz-e Sharf al-Shams—sebuah talisman kuno yang dipercaya memuat doa langit dan hikmah diturunkan tak untuk dibaca, melainkan direnungkan.

    Kita mungkin bertanya: mengapa pemimpin spiritual seperti Khamenei memakai ragam cincin? Dalam sejarah Islam, terutama di jalur Syiah, cincin adalah bagian dari warisan sunah.

    Rasulullah disebut mengenakan cincin perak bertuliskan Muhammad Rasulullah. Ali bin Abi Thalib, sang pintu ilmu itu, mengenakan akik yang kemudian menjadi lambang dari jalan rohani yang tegar juga halus.

    Para Imam sesudahnya tidak meninggalkan cincin begitu saja. Mereka menjadikannya semacam warisan tafsir dalam bentuk benda.

    Tangan Ayatollah itu bukan tangan yang ringan menunjuk musuh, tapi yang lembut saat memutar tasbih. Ia tahu, kekuasaan yang abadi hanya milik Allah semata. Maka cincin di jarinya itu semacam peringatan. Ia memanggul sejarah tak sebagai beban, tapi sebagai napas.

    Di satu zaman yang haus akan keterbukaan dan kecepatan, di mana segala hal ingin ditampilkan tanpa selubung, cincin-cincin itu justru menyimpan. Ada yang hanya bisa dimengerti lewat sunyi panjang, lewat tatapan anak-anak muda yang mencium tangan itu di lorong-lorong Qom dan Tehran.

    Karena kita tahu, sejarah tak hanya yang ditulis, kadang ia adalah apa yang dipakai, disimpan, dan dilupakan dengan sengaja. Maka tak heran bila kita melihat, dalam satu majelis, tangan itu diam di dada, mengangguk, tapi dalam gestur itu ada berabad-abad kerendahan hati. Ia adalah tangan yang pernah terluka dalam percobaan pembunuhan 1981, dan mungkin dari luka itu pula ia tahu: yang abadi bukan tubuh, tapi jiwa, tapi sikap.

    Kini cincin-cincin itu seperti aksara tak terbaca. Tapi justru karena itu, ia menyimpan. Dan dari penyimpanan itu, kita diingatkan: tak semua perlu dijelaskan. Ada hal-hal yang cukup disaksikan—seperti batu kecil di jari seorang Imam, yang menandai zaman tidak dengan teriakan. Tapi dengan aktif, mengakar.

    Maka tangan itu. Jemari itu. Tanpa kata, sedang mengajak kita mengingat kembali—melalui benda-benda kecil yang menyimpan semesta makna. Melalui batu yang pernah disentuh doa, melalui cincin yang tak bersuara tapi menyuarakan zaman. Sebab, di dunia yang cepat melupakan, ada cincin yang memilih menahan lupa.

    Teluk Buli, 2019

  • Veil

    @Elizabethvanderblank
    wajah itu.
    tertutup jaring tipis,
    seperti malam yang tak sepenuhnya jatuh.

    gaun hitam berpayet—
    berkilau lembut, seperti waktu tak ingin selesai.
    Ia berdiri, entah siapa.
    kita tak tahu apa yang ia tunggu.
    tapi kita tahu,
    ada hal-hal yang tetap berdiri
    bahkan ketika dunia berganti musim.

    kadang, apa yang menutup justru memperlihatkan.
    tabir itu, veil itu,
    adalah cara tubuh menjaga martabatnya
    di hadapan mata yang selalu ingin tahu lebih.

    di zaman ini, ketika semua ingin terbuka,
    veil adalah pemberontakan yang bisu.
    sebab tak segalanya
    perlu dijelaskan.

    ada keindahan
    yang tak ditentukan oleh zaman,
    tapi oleh bagaimana ia menolak
    menjadi milik siapa pun.
    perempuan itu tak menjawab.
    dan mungkin karena itu,
    kita tetap melihatnya.

    Teluk Buli, 21 Juli 2025

  • Sama Huruf

    (Kepada Dia)

    Di taman kata berjumpa kita
    huruf-huruf mendamba
    dieja sebagai cinta.

    Memburu arti
    menyatu
    dan menyatakan diri.

    Kita hanya lelambang bunyi,
    mewakili yang tersembunyi.

    Menjelma kata tanpa kelamin,
    titah Tuhan yang tertahan —
    meskipun serba mungkin.

    Terlontar dari jiwa, terlempar dari rahasia,
    segala yang gaib
    terurai lewat tanda.

    Kita hanya kurir penyampai pesan,
    hidup cuma mampir
    dan terabaikan.

    Kita bermimpi merengkuh cinta,
    terikut juga
    benci dan dusta.

    Tak ada yang lebih buatku bahagia,
    selain kau dan aku
    tercipta dari huruf-huruf yang sama.

    Jogja, 2018